SINARPAGIAKTUAL.COM-(SUMEDANG): Kelangkaan gas 3 kg  hingga harganya meroket tembus di angka Rp 23 ribu lebih yang terjadi akhir-akhir  ini di Kabupaten Sumedang Jawa Barat ternyata hal itu menurut para agen gas melon kepada salah seorang Tim Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) diakibatkan dari keterlambatan pasokan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) terhadap pengisian tabung gas saat agen melakukan di SPBE tersebut.

Keterangan itu di sampaikan kepada Wawan Hudawan Mauluddin Kepala seksi Bina Usaha dan Promosi Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sumedang yang menjadi salah seorang Tim Wasdal  kepada  Sinar Pagi Aktual (Selasa,25/8). Menurutnya setelah dilakukan pembinaan terhadap para agen dan pangkalan yang ada di Kabupaten Sumedang ini maka agen-agen gas melon yang ada di kabupaten Sumedang menyatakan mereka terkendala dengan antrian yang terjadi di SPBE saat pengisisan gas.

“ Menurut para Agen kelangkaan itu diakibatkan keterlambatan para agen gas 3 kg saat pengisian tabung gas di SPBE”, ujar Wawan.

Selanjutnya Wawan berujar, “ Akibat keterlambatan itu otomatis terjadi ketelatan pengiriman hingga ujungnya terjadi kelangkaan yang mengakibatkan harga pun menjadi naik di pasaran”, ujar Wawan lagi.

Quota Minta Ditambah

            Selain menyoal antrian yang terjadi di SPBE sebenarnya menurut Wawan para agen pun meminta perhatian kepada pihak pemerintah melalui Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar usulan peningkatan quota dari  8 juta pertahun menjadi 9 juta tabunng per tahun atau meningkat sebesar 6% tabung  3 kg dapat segera direalisasikan.

“ Untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat Kabupaten Sumedang maka penigkatan 6 % merupakan peningkatan yang cukup signifikan oleh karena itu para agen memohon usulan peningkatan 6 % dapat segera direalisasikan”, terang Wawan.

Selanjutnya terkait adanya telpon dari seorang Brigjen Angkatan Laut yang juga suami anggota DPD RI asal Kabupaten Sumedang kepada Kepala Diskoperindag hal itu ia anggap sebagai  motivasi agari bisa bekerja lebih baik lagi.

“ Telpon itu kami anggap sebagai sebuah motivasi agar kami bisa bekerja  lebih baik lagi”, ujar Wawan.

Keterangan dari agen ternyata mendapat sangkalan dari anggota Tim Wasdal lainya  yaitu dari  Forum Pangkalan Gas ( Forpagas) Kabupaten Sumedang, melalui Kordinator lapangan ( Korlap) Hendi saat di mintai tanggapan melalui  seluler di tempat terpisah oleh Koran Sinar Pagi (Selasa,25/8) ia menyatakan tidak setuju jika para agen menuding SPBE terlambat dalam memasok gas.

“ Menurut pengamatan kami di lapangan terhadap antrian di SPBE  tidak ada masalah karena antrian di SPBE tidak pernah ada yang diendapkan sampai besok hari nya, kalau antri sampai sore hari hal itu sudah  termasuk wajar”, ujar Korlap  Forpagas itu.

“ Terakhir kami mantau saat menjelang lebaran bahkan pemantau itu dibarengi dengan anggota tim lainya termasuk Pak Kanit bahkan Pak Wawan”, ujar Hendi lagi.

Tetapi Hendi pun menyadari jika  belakangan ini memang ia sudah jarang memantau lagi  SPBE karena ia mengaku sedang sibuk dengan kegiatan pembinaan terhadap para agen dan pangkalan.

Sementara itu menurut  salah seorang pegiat Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) di Kabupaten Sumedang melalui Juanda Kertopati menyatakan jika ia sudah merasa bingung dengan kondisi sekarang yang seolah sudah saling menyalahkan tetapi ia berharap intinya ada peyelesaian terhadap kondisi harga gas 3 kg yang harganya sudah memberatkan masyarakat itu.

“ Saya sudah bingung dengan keadaan  harga gas 3 kg sekarang yang sudah membumbung tinggi, semua pihak terkait mestinya jangan saling meyalahkan  harus  segera ada tindakakan konkret untuk mengatasi itu semua”, ujar Juanda  saat dihubungi melalui seluler juga (Selasa,25/8). (jeky)

.