SINARPAGIAKTUAL.COM-(SEMARANG):  Pendidikan dan pelatihan kerja harus link and match dengan kebutuhan pasar kerja. Ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dibangun dan dikembangkan secara simultan untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan memiliki daya saing global. Dalam arti menguasai aspek pengetahuan, keterampilan, sekaligus sikap kerja sesuai standar kompetensi yang merupakan representasi dari kebutuhan industri atau pasar kerja.

Hal tersebut mengemuka dalam Forum Tematik Badan Koordinasi Kehumasan Masyarakat Pemerintah (Bakohumas) yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Forum bakohumas kali ini bertajuk “Percepatan Peningkatan Daya Saing dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Indonesia melalui Program Reorientasi, Revitalisasi, dan Rebranding (3R) Balai Latihan Kerja”.¬†Kamis (9-3-1917)

Percepatan pengembangan SDM harus dilakukan melalui sinergitas pendidikan dan pelatihan vokasi secara terpadu untuk mewujudkan Skema Pelatihan Kerja Nasional yang fokus dan masif.

“Skema ini tentunya harus menjadi prioritas kerja yang melibatkan peran aktif dari pemerintah, swasta, masyarakat sipil dan serikat pekerja/serikat buruh di seluruh Indonesia,” ujar Inspektur Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Sunarno dalam sambutannya.

Hadir sebagai narasumber yaitu Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kementerian Ketenagakerjaan Bambang Satrio Lelono. Secara keseluruhan ia menjelaskan tentang upaya Kementerian Ketenagakerjaan dalam meningkatkan daya saing melalui pelatihan kerja di Balai Latihan Kerja Pemerintah.

Pada tahun 2030, Indonesia diprediksi akan menempati posisi ke-7 (tujuh) negara ekonomi terbesar di dunia dengan kebutuhan tenaga kerja terampil sebanyak 113 juta orang. Namun, pada tahun 2016, Indonesia baru memiliki sekitar 57 juta orang tenaga kerja terampil. Hal ini berarti Indonesia masih membutuhkan sekitar 4 juta tenaga kerja terampil setiap tahunnya.

“Untuk mempercepat ketersediaan tenaga kerja terampil, Kemenaker juga terus memperkuat kualitas penyelenggaraan pelatihan di BLK, baik di tingkat pusat maupun daerah,” kata Bambang.

Program 3R BLK ditujukan untuk mempercepat proses produksi SDM kompeten pada beberapa bidang kejuruan prioritas, sekaligus meningkatkan relevansi keluaran BLK dengan kebutuhan pasar kerja di dalam maupun luar negeri.

“Saya mengharapkan dengan adanya program 3R BLK ini, pelatihan kerja yang berorientasi terhadap kebutuhan industri mampu terus ditingkatkan melalui sinergi yang dijalin semua pihak,” tambahnya.¬†(ekon)